Copyright © Arga Litha
Design by Dzignine
1.10.14

Happy Milad-day, Mommy! (+pengumuman giveaway)

Hari ini tepat 50 tahun usia Mama. Ah, setengah abad sudah beliau menikmati pahit-manisnya kehidupan. Entah bagaimana perasaannya hari ini, yang jelas saya melihat kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Saya juga, senaaaang rasanya melihat senyum Mama. Pun bersyukur atas nikmat Allah berupa kesehatan beliau yang sejauh ini tidak bermasalah.

Sedari pagi, saya sudah di sisinya. Jadi, usai dinas malam, saya mandi di ruangan. Lalu ganti baju dan stand by di ruangan Mama. Mama yang selalu dinas pagi, bekerja seperti biasa. Lalu sepulangnya, barulah kami makan siang di luar. Kali ini di tempat makan istimewa, rumah makan yang jarang kami kunjungi tapi sudah terkenal kelezatan masakannya.


Tidak ada kado istimewa, saya hanya bisa menyajikan acara kecil ini. Sungguh, suatu hal yang sangat kecil dan mungkin tidak ada artinya. Saya terenyuh saat Mama bilang, “Wuk, makasih ya ...”

Ndiwuk adalah panggilan sayang Mama pada saya.

“Artha yang makasih sama Mama. Buat semuanya!” Saya peluk Mama.

Saat saya sedih, Mama yang lebih sedih. Saat saya bingung, Mama jauh lebih bingung. Seperti ketika nomor peserta tes CPNS yang tak kunjung datang, Mama yang terus mengingatkan saya agar terus pantau web BKD Kabupaten Banyuwangi dan cari info via google. Mama yang selalu meyakinkan, “Pasti datang. Sabar! Pasti datang!”

Mama yang selalu meluruskan langkah, saat saya melenceng dari jalan yang seharusnya. Mama yang terus menyadarkan untuk terus bertahan pada profesi saya. Mama yang tiada surut semangatnya untuk membahagiakan saya. “Kalau kamu sudah ada yang menjaga, lelaki yang ‘benar’, Mama baru tenang,” Cuma itu inginnya, tidak muluk-muluk.

Pokoknya ... Mama adalah sosok terbaik dalam hidup saya. Mama bilang kalau penyemangat hidupnya ialah saya, pun saya. Tanpanya saya buka apa-apa dan tak akan jadi apa-apa. Bukan hanya hari ini saya mengistimewakan Mama, namun setiap hari. Sebisa saya, walau apalah kemampuan saya ini.


Oya, seperti janji saya tempo hari, pengumuman pemenang giveaway“Tentang Kehilangan” adalah hari ini. Sudah tak sabar menunggu? Sama! Saya juga tak sabar mengumumkannya ^^

Ada tambahan pemenang, nih.

Selamat untuk peserta pertama: Liya Swandari
Terima kasih atas tulisannya. Ada pulsa Rp 10.000,- untuk Anda. =)


Bagi 3 peraih pulsa Rp 5.000,- yang diambil via undian (+ 1 lagi), selamat pada:

Bagi jawara 2 hingga 5, inilah merekaaa ...
Yang namanya teratas ialah jawara kedua, berurutan hingga jawara kelima. Selamat yaaa... Kalian berhak atas pulsa Rp 10.000,-


Lalu ... siapakah jawara utama?

Taraaa ...

 http://gitajiwa.blogspot.com/2014/09/mengapa-kehilangan-itu-menyakitkan.html
Tulisan inilah yang jadi jawara giveaway untuk kali ini. Selamat pada Mahotama Seputra yang mendapat pulsa Rp 25.000,-

Bagi para pemenang, silakan kirim email berupa nama dan nomor ponsel yang mau diisi pulsa ke artha.amalia@gmail.com ya. Pulsanya all operator, kok. Kalau pulsa untuk nomor tertentu kan bakal saya umumkan di awal seperti pada giveaway bagi pulsa tempo waktu. Ditunggu emailnya ya. Saya jarang ON via jejaring sosial lainnya sih >.<

Untuk peserta yang belum dapat hadiah, jangan sedih. Tidak berarti tulisan kalian jelek. Semua tulisan menarik, kok. Saya mendapat banyak hikmah dan pembelajaran hidup dari kalian semua, peserta giveaway “Tentang Kehilangan”. Terima kasih banyak yaaa... Jangan kapok ikutan giveaway saya lagi, masih ada lagi, lagi dan lagi. Tapi entah kapan waktunya, tunggu saja ^^

Akhir kata, terima kasih telah membaca tulisan ini.
Moga hari ini dan seterusnya, kita bahagia selalu yaaa...
Bagi yang masih punya Ibu, jangan lupa bahagiakan beliau pula ^^


Kasih Ibu tiada tara.
Bagaimana kasih kita kepadanya?



»»  KLIK biar paham...
30.9.14

Nomor Peserta Seleksi CPNS 2014

Alhamdulillah... Datang juga deh yang dinanti. Setelah berhari-hari berharap-cemas datangnya nomor peserta seleksi CPNS 2014 instansi Kabupaten Banyuwangi, hari ini saya happy!

Terima kasih pada Pak Pos yang baik...

Tepat pukul 10.30 WIB, saya yang kebetulan hari ini masuk malam dan sedang berleha-leha di tempat tidur, tiba-tiba ingin menengok halaman rumah. Teringat pesan Mama sebelum berangkat kerja tadi, “Jangan di kamar, di ruang tamu saja. Nanti Pak Pos datang.”

Firasat Mama tepat! Saya melihat ada mas-mas bermotor dan berseragam orange berhenti di depan rumah. Saya langsung girang, lari secepat kilat menyambut sang mas-mas yang pastinya membawa sesuatu untuk saya. Eh tapi ... kok yang dibawa besar, bukan amplop kecil yang saya rindukan? Surat balasan CPNS maksudnya ...

Sang mas-mas menyapa dan bertanya, “Mbak kemarin-kemarin saya tunggu di kantor pos loh. Tidak baca kertas kecil yang saya jepret di pagar rumah?

Hah?” saya bingung. Ditunggu? Ngapain? Kami kan tidak ada janji nge-date. #eh
Walau bingung, mata saya melirik bawaan sang mas-mas. Eeeeehhhh... ada amplop kecil untuk saya! yay!

Jadi 3 hari lalu, surat balasan CPNS ini datang. Saya antar ke sini, sepi. Saya bikin memo kecil di pagar agar Mbak tahu karena nomor hapenya saat saya hubungi sedang tidak aktif.

Saya melongo mendengarnya. Perasaan gak ada apa-apa di pagar rumah sejak berhari-hari lalu. “Bener gak ada apa-apa, Mas. Saya tanya Mama juga apa Pak Pos ke sini, tapi katanya enggak. Dan gak ada titipan apa-apa. Saya udah nunggu banget, loh. Takut nyasar. Kemarin-kemarin saya kerja, masuk pagi. Siangnya saya di depan rumah terus, nungguin. Tapi Pak Pos gak datang. Saya kepikiran, nyampai gak yaaa? Kan soalnya jauh, Banyuwangi. Pakai perangko, lagi,” saya nyerocos, curhat.

Iya, maunya saya lempar ke dalam rumah. Tetapi takutnya terhembus angin. Ya sudah, ini suratnya. Tanda tangan dulu. Untung ada paketan lagi, jadi saya ke sini. Kan sayang kalau surat balasannya harus kembali ke Banyuwangi. CPNS kan penting.”

Banget!” saya menyahut seraya tanda tangan kegirangan.

Ooo... jadi surat yang tidak terambil atau tidak diterima oleh alamat penerima surat (maksimal 3 hari) akan dikembalikan lagi pada sang pengirim. Alhamdulillahhh... ini amplop masih rezeki saya. Kok ya passss saya lagi di rumah.

Bidan di RS Pasuruan ya, Mbak?” saya ngangguk-angguk. “Semoga ada hasilnya di Banyuwangi ya, Mbak,” ujar mas-mas Pos usai menyerahkan 2 paketan untuk saya, satu dari Mbak Nia dan satunya dari Kabupaten Banyuwangi.

Iya. Terima kasih. Terima kasih banyak!

Aduuuh... beribu-ribu terima kasih saya ucapkan pada mas-mas Pos yang mau kembali ke rumah Mama yang berada di pinggiran kota ini. Alhamdulillah... walau saya belum tahu isinya tapi yakin pasti ini nomor peserta. Yakin seyakin-yakinnya. Beneran saya menunggu, harap-harap cemaaas banget. Sampai kirim pengaduan ke webKabupaten Banyuwangi. Isinya:


Wink...! Benar kata Mama, saya harus sabaaaaar. Nikmaaaat banget kalau kesabaran berbuah amplop seperti ini. ayo kita bukaaa ....

Buka yang besar dulu ya. Ini hadiah dari Mbak Nia karena menang lomba foto selfie dengan buku anak kesayangan. Untuk dibaca bareng Shasa, keponakan saya, nih. Terima kasih banyak, Mbak Nia! Saya suka ...


Lalu ... ini dia yang sangat diharap. Amplop balasan CPNS.



Alhamdulillah ... saya melaju ke babak berikutnya: TKD. Jadwal menyusul. Harus sering cek di bkd.banyuwangikab.go.id/formasi-cpns-2014

Ah senangnya hati ini ^^
Jadi deh mbolang lagi ke Banyuwangi bareng Mama. Menyambangi BKD Kabupaten Banyuwangi kembali. Siap-siap minta izin cuti 2 hari ke bos ruangan ^^ Asyiiiik!

Semoga perjuangan meraih impian jadi CPNS berbuah manis.




»»  KLIK biar paham...
24.9.14

Silaturrahim Penghapus Jaim


“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikanNya telinga mereka, dan dibutakanNya penglihatan mereka.” (QS Muhammad :22-23).



Silaturrahim (banyak yang lebih suka menyebutnya silaturahmi) pada dasarnya bermakna menjaga hubungan baik dengan kerabat atau saudara yang masih memiliki hubungan rahim atau hubungan darah dengan kita. Namun, jumlah manusia terus bertambah dan sebagai insan sosial, manusia harus berhubungan dengan siapa saja dan melalui apa saja. Maka tidak heran bila kini silaturrahim menjadi ajang membina hubungan baik dengan siapapun, entah itu saudara ataupun teman yang kemudian bak saudara sendiri, saking dekat dan baiknya hubungan tersebut. Silaturrahim era kini memang bukan hanya kunjungan secara fisik dengan mendatangi rumah, tetapi juga bisa via jejaring sosial seperti facebook, twitter, blog, skype, dan sebagainya.

Guru terhebat saya dalam hal ini adalah Mama. Beliau selalu heboh menyiapkan segala kebutuhan silaturrahim secara fisik, seperti pakaian apa yang kami kenakan untuk berkunjung, buah tangan yang dibawa hingga waktu yang tepat agar tidak mengganggu yang dikunjungi. Seperti sebulan lalu.

silaturrahim bersama keluarga besar

“Yang ini buat Mbak Nung, yang ini buat Iin ...” kata Mama sambil menunjuk 2 kantung plastik besar berisi kacang panjang dan jagung, hasil panen tetangga yang dibeli Mama sebagai oleh-oleh untuk kakak dan keponakannya di Sidoarjo. 

Saya mengangguk. Lalu mengangkat sekardus mie instan yang entah untuk siapa. Mama sepertinya tahu pertanyaan tak terucap tersebut.

“Kalau yang ini buat Pakdhe Lan. Biar nanti beliau gak repot masak waktu kita datang.”

Jadi, setelah dari Sidoarjo, Mama ingin lanjut ke Jombang. Di sanalah kakaknya Abi tinggal. Pakdhe seorang pensiunan, hidupnya pas-pasan. Mama takut merepotkan saat mengunjunginya, untuk itu Mama membawa kebutuhan pangan.

Mama selalu bilang, “Silaturrahim itu baik, asal tidak mengganggu. Kalau datang jangan ketika jam makan dan istirahat. Jangan merepotkan juga, datang hanya karena ada maunya.” 

Saat saya kecil, sering heran kenapa Mama suka sekali silaturrahim. Bukan saja pada saudara kandung yang tinggal berlainan kota, namun juga dengan sepupu-sepupu jauhnya. Sekarang, saya menyadari bahwa silaturrahim itu menyenangkan, bisa memperbaiki akhlak. Mengapa? Karena silaturrahim menghapus jaim alias jaga image. Mama tidak sungkan datang berkunjung ke saudara-saudaranya yang kaya harta, juga tidak ragu untuk menyambangi mereka yang kekurangan. Dari sini, saya tahu bahwa silaturrahim membuat kita menjadi pribadi yang bisa berbaur dengan berbagai kalangan. 

Bukan hanya membuat senang yang dikunjungi, silaturrahim membuat kita menjadi insan yang bersyukur. Saat bertemu dengan saudara yang kekurangan, saya berkali-kali mengucap hamdalah atas keadaan saya sekarang. Tidak pernah kelaparan, bisa mendapat apapun keinginan saya, masih bisa jalan-jalan walau mungkin hanya dengan wisata murah di Pasuruan. Pun dengan kondisi sehat yang Allah berikan untuk saya dan keluarga. 


Saya dan Mama sebelum
 berangkat silaturrahim
Sekitar 2 minggu lalu, saya diajak Mama bersilaturrahim lagi ke teman kerjanya. Beliau namanya Om Hari, sedang mengidap stroke yang membuatnya tak lagi bisa bekerja. Saya senang bisa bertemu Om Hari lagi, teringat begitu baiknya beliau saat saya diperbolehkan meminjam beberapa alat ruang Unit Gawat Darurat (UGD), unit yang dikepalainya, untuk dipakai ruangan saya sementara waktu. Dan pada kunjungan yang kesekian kalinya ini, saya melihat bagaimana perkembangan organ gerak Om Hari. Lumayan, sudah kuat duduk dan merespon ucapan orang di sekitarnya. Kami bertiga sama-sama senang, Allah masih mengizinkan kami bersua kembali. 

Dengan bersilaturrahim, usia rasanya memanjang. Berharap bisa bertemu tahun berikutnya, berikutnya, dan seterusnya. Begitu banyak kenangan yang ditorehkan saat silaturrahim, seperti bagaimana bahagianya saling berbagi kabar baik dan saling menguatkan ketika ada keadaan buruk yang mendera. Usia yang bertambah dengan banyak kenangan yang terukir, membuat usia yang diberikan Allah menjadi tidak sia-sia. Pun silaturrahim itu berbagi rezeki yang dimiliki, karena terkadang Mama ataupun Budhe memberi sangu, katanya sebagai uang saku dan tabungan bagi anak-anak, termasuk saya yang belum menikah. Asyik! Rezeki nomplok untuk tabungan nikah. 

Mama pernah berujar bawa dulu Mak Atin, nenek saya, juga sosok yang gemar silaturrahim. Di usia senjanya, beliau masih kuat keluar kota sendirian naik bus. Yang dikunjunginya sampai terkejut, mengira beliau bercanda karena datang tanpa pengantar. Namun begitulah adanya, Mak Atin bagai diberi kekuatan ekstra untuk menjalin hubungan baik dengan sanak saudara dan keturunannya. Ia diberi kesehatan panca indra dan fisik, hingga mampu berjalan kaki sejauh berkilo-kilo meter, ogah naik becak dari tepi jalan raya utama ke gang kecil tempat kediaman saya dan Mama, hanya demi membeli sekantung besar makanan kesukaan saya di warung dekat rumah: kerupuk, cokelat, dan makanan ringan lainnya. Saya masih teringat jelas wajahnya, begitu segar dan cantik karena selalu bahagia. 

Kebahagiaan yang Mak Atin rasakan juga sungguh saya rasakan saat menikmati ritual silaturrahim. Saya yang dulunya sosok yang malas untuk ‘menyapa’ teman terlebih dahulu, telah memupus jaim tersebut. Rindu mengalahkannya. Masih teringat bagaimana berbulan lalu sebelun motor saya raib, saya kunjungi rumah teman-teman kuliah saya. Di Bangil, Sidoarjo dan Surabaya perbatasan Gresik, saya datangi sendiri dengan melawan terpaan polusi. Betapa terkejutnya mereka melihat saya di depan pintu. Saya yang mereka kenal suka menghilang tanpa kabar, tiba-tiba di kota A lalu entah kapan di kota B, berada tepat di hadapan mereka. 

Mereka tersenyum, menyambut saya dengan heboh. Semua isi kulkas dikeluarkan, para suami pun mereka minta untuk membeli apa yang bisa untuk menjamu. Pun saya yang membawa oleh-oleh untuk mereka, membuat mereka haru karena bentuk kenang-kenangan tersebut. Perhatian kecil. Kini, walau tak ada motor yang bisa membuat saya bebas ke mana-mana, saya masih suka menghubungi mereka via ponsel. Whatsapp membuat saya lebih mudah untuk menyapa mereka yang telah menjadi ibu muda. Walau mereka masih saja kerap menanyakan, “Kapan waktumu menikah?” saya anggap itu doa agar saya lekas bersama jodoh saya. 

Saya merasakan ... di surga sana pasti Mak Atin tersenyum melihat saya sudah gemar bersilaturrahim. Kesukaan beliau bersilaturrahim telah dikenang dan dibicarakan banyak orang. Saya yakin juga banyak orang yang mendoakannya karena kebaikannya tersebut. Saya ingin sepertinya, dikenal karena hobinya bersilaturrahim. Demi memperluas hobi tersebut, saya pun terjun di dunia maya, bersilaturrahim lewat sosial media dan menjadi blogger, ikut berbagai giveaway sebagai pengukuh ikatan persaudaraan blogger. Sungguh, silaturrahim menyenangkan dan banyak manfaatnya. 



“Barang siapa yang senang dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dandijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi.” (HR Imam Bazar, Imam Hakim). 


*1000 kata tanpa judul



»»  KLIK biar paham...
23.9.14

Pengorbanan Meraih Impian Menjadi CPNS 2014

Saat membaca Tribunnews online pagi ini, mata saya berkaca-kaca. Sebegitu kerasnya perjuangan untuk bisa ikut seleksi CPNS 2014. Di Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat, ada sekitar 23 ribu warga yang rela ‘menginap’ di sekitaran Badan Kepegawaian Daerah (BKD) setempat hanya demi menyerahkan berkas lamaran. Ah, kenapa sistemnya bukan lewat pos seperti instansi lainnya? Adakah praktek Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN) di sana?

Banyak warga rela tidur di emperan. Bahkan ada seorang wanita yang telah 3 malam tidur di lantai masjid dekat kantor BKD hanya demi mendapat nomortes peserta. Jadi malu. Saya yang hanya menunggu di rumah yang nyaman dan tanpa kedinginan, seringkali nggerundel sendiri karena Pak Pos tak juga mampir ke rumah. Lalu apa kabar Siti Aisyah yang belum juga pulang kampung karena petugas BKD Mamuju kerjanya kurang profesional?

Jadi teringat bagaimana saya dan Mama di tahun 2010, ngemper di mushola dua malam sebelum tes tulis seleksi CPNS di stadion Jatidiri Semarang. Iya, di tahun itu tidak ada formasi D III Kebidanan di Perekrutan CPNS Provinsi Jawa Timur. Karenanya saya ‘lari’ ke Jawa Tengah. Mama saya ikut, dong. Selalu mengantar anak perempuan satu-satunya ini.

Padahal kami telah menyewa hotel di dekat stasiun Poncol, tapi karena kondisi kamarnya jorok maka kami pindah mencari hotel lainnya. Karena registrasi ulang saat itu harus ke RSU Kariyadi, maka Mama memutuskan untuk mencari hotel di dekat situ. Namun ... tidak ada. Mungkin juga kami yang kurang teliti mencarinya. Hingga kemudian Mama bilang, “Nginap di mushola RS saja.”

Atas seizin Pak Satpam, kami menginap di mushola. Letaknya di dalam gedung. Jadi saat ada petugas yang sholat, kami ikut melihat. Mereka pun melihat kami yang seperti warga gusuran =.=” Saya dan Mama bergantian tidur. Saat Mama terlelap, saya tebleki para nyamuk yang menggigit kulitnya. Enak saya darah Mama dihisap-hisap!

Esoknya saya registrasi di pelataran RSU Kariyadi Semarang. Usainya, saya dan Mama naik bus kota untuk melihat di mana itu Stadion Jatidiri, lokasi tes tulis. Kemudian ... barulah kami mencari penginapan di sekitar situ untuk tempat beristirahat. Alhamdulillah ... dapat kamar yang nyaman. Saya lihat, Mama langsung tidur nyenyak. Tubuhnya pasti pegal sudah ke sana ke mari mengantar saya. Mama, terima kasih banyak!

Tiap tahun pun seperti itu. Mama selalu menemani saya mencari lokasi tes dan mengantar saat tes. Menunggui, hingga saya selesai dan bertanya apakah saya kesulitan. Walau berkali-kali gagal, Mama tidak pernah menyalahkan saya. Selalu bilang mungkin belum rezeki, suatu saat pasti bisa. Dan di tahun ini pun, saya yang memilih Kabupaten Banyuwangi, ditemani Mama saat berkunjung ke BKD Kabupaten Banyuwangi, lokasi tes CPNS 2014. Entah mengapa saya memilih kabupaten terluas di Jawa Timur ini, saya sendiri pun tak tahu. Semoga segala perjuangan Mama tak sia-sia.

Mama ... kasihnya benar-benar tiada batas.


»»  KLIK biar paham...

Review: Novel "Best Rival"


Judul: Best Rival (Sahabat terbaik, bisa jadi musuh terdekat)
Penulis: Naima Knisa
Cetakan: 1, 2014
Tebal: viii + 244 halaman, 13x19 cm
Penerbit: GagasMedia
ISBN: 979-780-744-4

Ini adalah kisah tentang teman jadi lawan. Bisa jadi, kamu juga mengalaminya.

Atas semua yang kamu miliki, ia tidak bahagia. Atas semua yang kamu lakukan, ia tidak peduli. Padahal, dulu, kalian pernah berjanji untuk berjalan bersisian, menuju impian yang sama.

Ya, Estu, ini kisah kau dan aku. Aku yang bukan “siapa-siapa” menjadi titik lemahku bagimu. Begitukah?

Maaf, aku tidak selemah itu. Aku belajar banyak dari kecuranganmu selama ini. Belajar untuk bisa menjadi lebih daripada dirimu.

Tenang saja, waktu akan menjawab “siapa aku, siapa kamu”. Juga tentang siapa teman, siapa lawan.


Kuncoro memang bukan siapa-siapa. Ia anak abdi dalem yang menolak meneruskan profesi orang tuanya. Ia ingin membuat gebrakan, menjadi koki terkenal yang bisa merubah nasib dan mengangkat derajat keluarganya. Sayangnya ... obsesi tersebut membuat ia buta. Buta hati.

Estu, sahabat masa kecilnya yang merupakan keturunan Kraton Solo, dianggapnya sebagai penyebab dari segala kegagalan dalam hidupnya. Mulai dari tak teraihnya beasiswa di Le Cordon Bleu karena tiba-tiba nama Estu ada di urutan 5 besar, restoran Omah Jawa yang kehilangan pelanggan karena Raos Kedhaton milik orang tua Estu yang memikat lidah banyak orang, hingga Gendis yang kemudian memutuskan hubungan dengannya.

Gendis, kekasihnya, yang awalnya ia minta untuk mendekati Estu guna mendapatkan resep-resep rahasia, malah berbalik memusuhinya. Orang tua Gendis pun yang terlanjur kecewa atas kebangkrutan yang dialaminya karena Omah Jawa tak kunjung ramai pengunjung, meminta anak gadisnya menjauhi sang koki. Dari situ kemudian Estu dan Gendis semakin dekat, bukan saja karena hubungan rekan bisnis antar kedua orang tua, namun juga karena kecocokan mereka saat mengobrol. Estu romantis dan kalem, tidak seperti Kuncoro yang terlalu ‘kaku’ dan hanya memikirkan dirinya sendiri.

Bagaimana nasib Kuncoro selanjutnya? Dapatkah ia membalikkan keadaan dan mewujudkan segala impiannya? Mampukah ia kembali mendapatkan cinta Gendis? Semuanya akan terjawab di dalam novel ini.
saya dan Novel Best Rival

Akhirnyaaa... setelah sekian lama tidak membaca buku (gratisan), saat bahagia tersebut tiba jua. Ini pertama kalinya saya membaca hasil akhir kompetisi menulis novel Seven Deadly Sins yang diadakan GagasMedia. Hahay ... ini toh salah satu jawaranya. Apa yaaa yang bikin naskah ini disukai para dewan juri? Ternyata ... banyak kejutan di dalamnya! Sungguh, saya tak menyangka karya mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi UNDIP secetar ini!

Ima (panggilan akrab penulis), pandai merangkai kisah. Saya kira ini juga membutuhkan penelitian tentang isi nan silsilah kraton yang tidak main-main. Ia begitu detail menggambarkan bagaimana suasana kraton, busana para abdi dalem yang dipakai Simbok dan Bapak, serta mitos tentang Nyai Menggung Gandarasa. Jujur, saat membaca bab tentang warisan alat masak kraton, saya jadi teringat salah satu film televisi yang pernah saya tonton. Kisahnya juga tentang alat masak peninggalan karton yang berfungsi membuat enak segala masakan yang dimasak dengan alat masak tersebut. Di sini pun, sang tokoh Kuncoro berpikir demikian. Andai ia tahu bagaimana kisah yang sebenarnya ... Andai ia mendengarkan percakapan Gendis dan Estu dengan seksama ...

Tokoh utama tentulah Kuncoro, sang pemiliki sifat iri dengki yang luar biasa. Begitulah orang iri, ia selalu merasa dirinya benar, hebat dan tidak mau tahu bagaimana perjuangan orang lain. Kalau ia kalah, sang pemilik sifat iri menghalalkan segala cara agar ia dapat menang. Ih, gemas dengan Kuncoro. Kalau saya bertemu dengannya di alam nyata, inginnya saya tampar dan kasih lihat rekaman kejadian bagaimana sebenarnya hubungan Gendis dan Estu selama ini.

Estu yang begitu sabar, seperti halnya keturunan kraton yang lain. Ia memiliki sifat bijaksana, walau akhirnya semakin sering diusili oleh Kuncoro. Sebagai lelaki normal, tentulah ia tergoda akan kecantikan hati dan fisik Gendis yang tiba-tiba mendekatinya. Toh saat tahu apa misi Gendis, ia tak marah. Bahkan memaklumi. Luar biasa. Di manakah lelaki seperti itu bisa saya temui di alam nyata?

Alur yang dipakai maju-mundur. Flashback dikisahkan dengan tidak terburu-buru, membuat pembaca semakin memahami bagaimana kisah antara Kuncoro dan Estu sewaktu mereka masih bersahabat. Pembaca dapat mengambil hikmah bahwa komunikasi ialah segalanya. Kalau komunikasi tak terjalin dengan baik, seerat apapun hubungan antar manusia pasti yaaa kacau jadinya.

Saya terpukau dengan setting kraton dan restoran yang diceritakan. Saya jadi membayangkan duduk di kursi ukir Omah Jawa sambil menanti pesanan saya tersaji. Lalu mencicipi gurih dan kenyalnya tengkleng  plus  nasi hangat yang ... hmmm... saya jadi lapar. Di novel ini pun diberi resep tentang bagaimana membuat tengkleng bumbu kecap (eh) ala Estu. Enak! Enak! Saya juga ingin menjelajahi Solo, mencari mana sih yang namanya Omah Jawa dan Raos Kedhaton. Mungkin saja ada, kan?

Sedikit saran, untuk prolog harusnya ditulis kisah yang lain. Karena dalam Best Rival malah mengambil secuil kisah saat Kuncoro mencari makam Nyai Menggung Gandarasa. Epilognya saja membuat kejutan luar biasa, sayang sekali kalau prolognya demikian. Lalu apa maksud dari halaman 126 dan 127? Ada 4 paragrafyang terulang. Mungkin maksudnya adalah Kuncoro mendengar rekaman percakapan Estu dan Gendis sebanyak 2 kali, tapi alangkah lebih baik bila pengulangan tersebut dinarasikan, bukan dengan ditulis ulang yang membuat pembaca sedikit bingung.

Walau dikerjakan dengan mencuri-curi waktu dengan mengetik di komputer depan CCTV, lalu dibantu editor yang sabar, hanya ada sedikit typo di dalam novel ini. Sip! Alur dan ide ceritanya membuat saya melayangkan dua jempol. Mengesankan!


»»  KLIK biar paham...

Repost: Lyne feat. @PrettyRecipe Giveaway !

Mau ini?
Paket A :
- Hair Treatment
- Lip Balm
-  Bath Salt

Atau ini?
Paket B :
- Cream Blush
- Sugar Scrub

Ikutan giveaway-nya aja di http://lynlyne.blogspot.com/2014/09/lyne-feat-prettyrecipe-giveaway.html




Saya udah ikutan, ngelemesin otak yang lagi cenuuut-cenuuuut nungguin nomor peserta CPNS Kabupaten Banyuwangi 2014. Hehe ... 
Kartu peserta ... cepatlah datang!

»»  KLIK biar paham...
17.9.14

Nomor Peserta Akan Diterima Peserta Seleksi CPNS 2014

Assalamualaikum :)
Sehat? Alhamdulilllah ...
Saya mah walau kuota inet udah mulai dup-dup-an =.=" (apaan ntuuuh?), tapi bahagia selalu ^^

Oiya, mau bagi-bagi info nih. Sekalian curhatan, sih. Teteeeeppp...

Dari kemarin-kemarin, usai saya daftar online untuk seleksi CPNS 2014 dan kirim berkas ke panitia, Mama udah heboh banget buat tanya, "Nomor ujianmu udah datang? Pak Pos ngirim surat gak? Kamu gak salah nulis alamat, kan?"

Errrghhhh... 
Mama saya heboh, pemirsaaaahhh... Inih nyang mauh ujian siapaaaah?

Okelah tak apa. Mama memang selalu antusias untuk hal-hal seperti ini. Baguslah :)
Cek website sscn, gaswaaaat! Eror! Inih kenapaaaaa?

Tanya sama dukun paling mahatau, deh. Mbah google, siapa lagi. Bertemulah saya dengan berita ini:
Copas dari kabarbanyuwangi.info:
Pendaftaran seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) di lingkungan Pemkab Banyuwangi segera memasuki babak baru. Mulai hari ini (16/9), Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) Banyuwangi mulai mengirim nomor peserta kepada masing-masing pendaftar calon abdi negara tersebut (semoga gak nyasaaaar ... aamiin!). Kepala BKD Banyuwangi, Sih Wahyudi mengatakan, pengiriman nomor peserta tersebut akan dilakukan melalui Kantor Pos ke alamat masing-masing pendaftar. Dalam paket kiriman nomor peserta tes itu juga akan dilampirkan pengumuman agar pendaftar aktif melihat website BKD Banyuwangi. (semoga inet gak pake ngambek dan bisa lancar lihat pengumuman) 
Sih Wahyudi menambahkan, hingga pukul 14.00 kemarin, jumlah pendaftar yang telah melakukan pendaftaran online sebanyak 1.796 orang. (Pendaftar segituh dibagi 51 formasi = 35 orang per formasi. Moga yang milih formasi bidan pelaksana gak banyak-banyak amaaaat. Kalaupun banyak, semoga saya bisa teteeeep lolos ke 5 besar. Yak cemunggguthhh!)


Uwowww....!

Menanti Pak Pos datang menyampaikan surat berharga :)

Terus, terus... bagi kalian yang gak milih instansi yang saya pilih, ada kabar terbaru apa?


Hei kawans... Jangan lupa ikutan giveaway saya ya. Ada pulsa gratis untuk kalian^^ Klik sini ---> argalitha.blogspot.com/2014/09/giveaway-tentang-kehilangan.html Cuma sampai akhir bulan ini, loh...

»»  KLIK biar paham...